Mencoba menengok beraneka ragam kebuadayaan dari mulai seni tari sampai seni musik tradisional berbagai daerah di Negara kepulauan ini. Melihat kekiri dan kekanan, depan dan belakang dengan warna warni kehidupan kota dengan modernisme nya. Ternyata, setelah banyak ngobrol ngaler ngidul (kesana sini) dengan beberapa teman diseputaran Bandung sampai daerah Kabupaten, saya mulai sadar bahwa ternyata banyak kebudayaan daerah yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan orang, bahkan mulai dilupakan.
Timbulah rasa keingintahuan akan sebuah tradisi turun temurun terutama utuk alat musik tradisional khususnya kisunda/kasundaan, dari yang masih exist seperti:calung, kendang, goong, dsb, sampai yang mulai terlupakan oleh sebagian besar masyarakat pada umumnya. Dan dari sana saya mencoba mencari info lebih jelas mengenai hal ini.
Hasilnya saya mendapat sedikit pengetahuan tentang sebuah alat musik tradisional yang mungkin asing untuk sebagian orang, alat musik ini benama “KARINDING”. sebuah alat musik tradisional masyarakat sunda yang jujur baru beberapa bulan ini saya ketahui. untuk mengetahui sebagian informasi tentang alat ini, saya dapat sebagian dari sini, sini, juga dari sini, dan tentunya dari ngobrol dengan beberapa sumber juga.
Karinding
karinding
Jaman dulu alat ini dimainkan untuk mengusir sepi dimalam hari, serta berfungsi sebagai alat untuk mengusir hama dengan suara yang dihasilkannya. Suara yang dihasilkan oleh alat musik karinding membuat hama padi tidak mendekat karena menyakitkan buat hama tersebut.
kenapa Karinding mampu menghasilkan suara yang bisa mengusir hama?
Suara yang dihasilkan berupa getaran yang tidak begitu jelas terdengar oleh telinga manusia, dalam ilmu suara, suara yang dihasilkan masuk kedalam kategori suara low desibel, yang getaran ini cuma bisa didengar oleh jenis binatang jenis insect, konon inilah yang dikenal sekarang sebagai suara ultrasonik.
Ngomongkeun Karinding (Bicara tentang karinding)
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan ngobrol bareng teman-teman di daerah Soreang, yaitu : Roni , Achong (STSI Bandung), Rizky Bru (UPI Bandung), Adot (this-diary).dari hasil obrolan disana, saya semakin memiliki gambaran jelas tentang karinding, dan juga saya diberi sebuah karinding hasil modifikasi salah satu Dosen STSI Bandung.
Menurut Roni dan Achong dari STSI Bandung, karinding sendiri tidak hanya ada di tatar sunda, malahan di Bali, ada yang disebut dengan Genggong yang pada dasarnya adalah karinding-karinding keneh (karinding juga). Dan ternyata karinding bukan hanya terdapat di jawabarat dan beberapa daerah di Indonesia, akan tetapi di beberapa Negara lainpun ada, namun dengan nama dan bahan pembuat yang berbeda.
Perkembangan
Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata ada seorang tokoh Karawitan di bandung yang memodifikasi karinding, dari karinding generasi awal /karinding buhun yang tidak mempunyai tangga nada, kedalam karinding baru yang mempunyai tangga nada pentatonis maupun diatonis. Karinding baru ini dekenal dengan nama Karinding Toel.
Karinding Toel adalah karinding hasil modifikasi Bapa Asep Nata, yang kebetulan merupakan salah satu Dosen Karawitan di STSI Bandung. Seperti yang dipaparkan diatas, Karinding Toel hasil modifikasi Pak Asep Nata pada taun 2000an, memiliki kelebihan yaitu sudah mempunyai tangga nada, baik pentatonis maupun diatonic (do-re-mi-pa-so-la-si-do , da mi na ti la da).
Berikut adalah gambar Karinding toel (karinding hasil modifikasi Pak Asep Nata) yang saya pegang dan coba memainkan sendiri. Karinding toel yang saya pegang ini adalah krinding dengan nada D.

Memainkan karinding
Karinding pada umumnya (karinding buhun) ditabuh menggunakan jari tangan (telunjuk) dan memakai mulut kita sebagai resonatornya untuk menghasilkan suara, dengan cara di pukul memperlakukan alat ini seperti layaknya perkusi, dengan menggunakan satu jari tangan, mulut kita berfungsi sebagai resonansi, dan lidah sebagai pengontrol bunyi yang kita inginkan. Ada beberapa jenis suara yang dihasilkan, yaitu dengan mulut kosong tanpa napas dan dengan menggunakan napas,ini akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Alat ini bisa menghasilkan suara yang khas dari tiap orang, sebutlah jenis melodi, rhytm dan bass nya bisa di hasilkan, atau kendang, saron, goong nya dalam alat music sunda lainnya.
Tapi berbeda dengan Karinding Buhun, sesuai dengan namanya Karinding Toel di mainkan dengan cara ditoel(dicolek) oleh jari tangan.dan tiap-tiap karinding ini mempunyai nada yang berbeda-beda, mulai dari E,F,F#,G,G#,D, dan seterusnya.
sumber: di sini
15.29
Rafi Andrian





